eNewsTime.id, Tanjabtim - Persoalan saluran air milik perusahaan migas PetroChina International Jabung Ltd di Desa Sungai Toman, Kecamatan Mendahara Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, kembali menuai sorotan. Drainase yang disebut-sebut tersumbat selama bertahun-tahun diduga menyebabkan sedikitnya 3.000 meter persegi lahan perkebunan milik warga terendam air hingga tak lagi produktif normal.
Kondisi tersebut bahkan disebut telah berlangsung hampir tiga tahun, meski Pemerintah Desa Sungai Toman selama tahun 2026 dikabarkan sudah dua kali melayangkan surat permohonan penanganan kepada pihak perusahaan.
Salah seorang warga, Toguan Hasibuan, mengungkapkan bahwa persoalan itu bukan hanya menghambat aktivitas perkebunan, namun juga telah menyebabkan puluhan pokok sawit miliknya mati akibat terus-menerus terendam air.
“Sudah hampir tiga tahun kondisi ini terjadi. Surat dari desa juga sudah dua kali dilayangkan, tapi sampai sekarang belum ada tindakan nyata dari pihak Petro,” ungkap Toguan kepada wartawan belum lama ini.
Menurutnya, buruknya aliran drainase membuat air terus menggenang di area kebun warga. Akibatnya, lahan tidak dapat dimanfaatkan secara normal dan hasil perkebunan mengalami penurunan drastis.
“Karena terus terendam, sekitar 50 pokok sawit mati. Kami jelas dirugikan,” bebernya.
Tak hanya itu, warga kini mulai khawatir lantaran debit air disebut semakin tinggi dan nyaris menggenangi akses jalan utama masyarakat di kawasan tersebut.
“Sampai sekarang kami hanya dapat janji-janji. Katanya segera ditanggulangi, tapi nyatanya belum ada realisasi,” tegas Toguan.
Atas kondisi tersebut, warga meminta perusahaan segera melakukan normalisasi saluran air serta bertanggung jawab atas kerusakan tanaman sawit yang diduga mati akibat rendaman berkepanjangan.
“Saya minta ada tanggung jawab dari PetroChina atas sawit yang mati karena terendam,” tukasnya.
Sementara itu, pihak PetroChina International Jabung Ltd melalui Humas, Eko, membenarkan bahwa perusahaan telah menerima laporan dari Kepala Desa Sungai Toman terkait persoalan tersebut.
Menurut Eko, pihak perusahaan telah turun langsung ke lokasi bersama pemerintah desa, masyarakat, serta tim teknis untuk melakukan identifikasi permasalahan di lapangan.
“Hasil identifikasi ditemukan adanya gorong-gorong yang tersumbat akibat sedimentasi,” jelasnya, Minggu (24/5/2026).
Ia mengatakan, perusahaan berencana melakukan perbaikan dengan mengganti gorong-gorong agar aliran air kembali lancar. Namun proses tersebut membutuhkan persiapan material dan penggunaan alat berat.
“Material gorong-gorong perlu di prepare untuk pengadaannya. Selain itu pekerjaan penggalian membutuhkan alat berat,” ujarnya.
Eko menambahkan, saat ini alat berat perusahaan masih digunakan untuk kegiatan pembersihan kanal jalur pipa di Kelurahan Nibung Putih atas permintaan kelompok tani setempat.
Meski demikian, warga berharap janji perbaikan tersebut tidak kembali berakhir tanpa kepastian. Sebab jika genangan terus meluas, bukan hanya kebun sawit yang terancam, namun juga akses jalan dan aktivitas masyarakat sekitar.
Perkuat Sinergi Lintas Sektor dalam Pemanfaatan Aset Negara di Hulu Migas
Kebut Hilirisasi Kelapa, Bupati Dillah Jemput Dukungan Bappenas untuk Dongkrak Ekonomi Tanjabtim
Bupati Dillah Jemput Dukungan DPR RI, Perjuangkan Sektor Kesehatan
Gebrakan Besar! Bupati Dillah Buka Jalan Investasi di Sektor Kelapa
Diserbu Investor Eropa! Tanjabtim Siap Meledak Jadi Raja Industri Kelapa Dunia
PHR Zona 1 Jaga Operasi Produksi Tetap Aman dan Andal di Momen Lebaran
Bupati - Wabup Tanjabtim Turun Langsung, Infrastruktur Pemusiran dan Teluk Kijing Jadi Sorotan
Disinyalir Pembelian BBM Armada Persampahan DLH Batang Hari Dimanipulasi